
IDNEWSUPDATE Dubai, pusat kemewahan dan destinasi idaman miliarder dunia, kini dilanda ketakutan mencekam, berubah menyerupai "kota hantu" dalam dua minggu terakhir akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Ketegangan global ini memicu eksodus besar-besaran warga asing yang sebelumnya meramaikan kota metropolitan Uni Emirat Arab tersebut.
Menurut laporan The Guardian yang dikutip pada Rabu (11/3), gelombang pengungsian ini terjadi sebagai respons atas serangan drone dan rudal balasan Iran ke fasilitas vital di negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, menyusul serangan udara AS-Israel pada akhir Februari. Data menunjukkan bahwa lebih dari dua pertiga serangan balasan Iran diarahkan ke wilayah UEA, dengan Dubai diduga menjadi target utama karena dua faktor strategis: kedekatan intelijen dan militer dengan negara-negara Barat, serta perannya sebagai pusat ekonomi, pariwisata, dan logistik global.
Ketergantungan Dubai Terhadap Sektor Pariwisata Memperburuk Keadaan
Kondisi Dubai menjadi sangat rentan terhadap guncangan ini, terutama karena ketergantungannya yang sangat tinggi pada sektor pariwisata, sebuah aspek yang minim dimiliki oleh negara-negara Teluk lain yang lebih mengandalkan sumber daya minyak. Saat ini, tempat-tempat yang biasanya dipadati pengunjung, seperti pantai-pantai eksotis, bar-bar trendi, hingga pusat perbelanjaan mewah di Palm Jumeirah, dilaporkan sepi tak berpenghuni.
Mayoritas penduduk Dubai, lebih dari 90 persen, adalah warga negara asing yang tertarik dengan kebijakan bebas pajak yang ditawarkan. Namun, kepanikan yang ditimbulkan oleh ancaman perang telah memicu pelarian massal di kalangan ekspatriat ini. Laporan The Guardian menekankan bahwa fondasi "Mimpi Dubai", yang menjadi daya tarik utama bagi warga asing, kini tengah terguncang hebat dan menghadapi ancaman eksistensial.
Seorang kepala sekolah asal Inggris, John Trudinger, menggambarkan betapa memilukannya situasi yang dialami para rekan sejawatnya. "Banyak guru Inggris di sini mengalami trauma mendalam. Sebagian besar sudah pergi dan tidak akan kembali lagi," ungkapnya.
Ancaman Krisis Ekonomi dan Kehidupan Pekerja Migran
Nasib serupa menghampiri para pekerja migran yang terjebak di tengah ketidakpastian. Zain Anwar, seorang sopir taksi asal Pakistan, mengeluhkan hilangnya pendapatan secara total akibat minimnya wisatawan. "Bisnis kami benar-benar kering. Banyak sopir taksi kini mempertimbangkan untuk pindah ke negara lain. Semua orang tahu, Dubai sudah selesai," ujarnya dengan nada pesimis.
Khaled Almezaini, seorang profesor dari Zayed University, memberikan peringatan keras mengenai batas ketahanan ekonomi UEA. "Jika situasi ini berlanjut selama 10 hingga 20 hari ke depan, dampaknya terhadap sektor penerbangan, bisnis asing, dan industri minyak akan sangat parah," tegasnya.
Bandara Internasional Dubai, yang sebelumnya mencatatkan volume penumpang internasional tertinggi di dunia pada tahun lalu, kini beroperasi dengan kapasitas yang sangat terbatas. Setelah sempat ditutup total akibat serangan drone, bandara kembali mengalami penutupan sementara pada 7 Maret lalu demi alasan keamanan dan imbas dari penutupan ruang udara yang terus berlanjut.
Posting Komentar